Pengenalan Bahasa Asing pada Anak Usia Dini

Di era globalisasi ini kemampuan berbahasa asing menjadi sangat dibutuhkan, terutama Bahasa Inggris yang berperaan sebagai bahasa Internasional. Saat ini, individu yang memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik akan mendapatkan nilai plus tersediri dan memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, bahkan beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Karena pentingnya kemampuan berbahas asing tersebut, banyak sekolah-sekolah sekolah yang mulai menererapkan metode bilingual pada proses pembelajaranya, mulai dari jenjang pendidikan pra sekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mendefinisikan bilingual sebagai kemampuan menakai dua bahasa dengan baik dan bersangkutan dengan atau mengandung dua bahasa. Saat ini banyak orang tua yang tertarik memasukan anaknya ke Taman Kanak-kanak (TK) dan Playgroup yang menggunakan program bilingual, harapannya adalah dengan usia yang lebih dini anak-anak akan lebih mudah menguasai bahasa asing. Hal tersebut tidaklah salah, karena Hurlock, 1994 (dalam Djuharie, 2011) mengatakan, awal masa kanak-kanak umumnya merupakan saat berkembang pesatnya tugas pokok dalam belajar berbicara, yaitu menambah kosa kata, menguasai pengucapan kata-kata dan menggabungkan kata-kata menjadi kalimat. Maka dari itu, pengenalan bahasa asing pada usia dini merupakan langkah awal yang tepat untuk mengajarkan lebih lanjut bahasa asing kepada anak.

Dalam penerapan bilingual, setiap lembaga pendidikan memiliki program yang berbeda. Menurut Dr. David Freeman, Professor of Curriculum and Instruction, dan Dr. Yvonne Freeman, Professor of Bilingual Education dari Amerika Serikat, ada dua tipe program bilingual, yaitu subtractive dan additive program. Substractive programs adalah program pendidikan di mana semua instruksi disampaikan dalam bahasa Inggris, penggunaan bahasa pertama digantikan sepenuhnya oleh Bahasa Inggris. Sementara pada additive programs, proses pembelajaran dilakukan dalam bahasa pertama anak maupun bahasa asing. Kedua cara di atas mungkin memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Pada anak usia dini, pada awalnya penerapan program substractive akan menunjukan kemampuan berbahasa asing yang lebih pesat pada anak, tetapi dikhawatirkan dengan cara seperti itu keterampilan dalam bahasa pertama pada anak akan berkurang. Menurut Freeman, bahasa pertama penting untuk membentuk konsep, terutama dalam hal akademik, padahal pada anak usia dini pembentukan konsep pada anak belum terbentuk sempurna. Penggunaan program substractive pada anak yang belum memiliki konsep yang terbentuk sempurna akan berakibat pada proses akademik anak di tahap selanjutnya.

Sedangkan pada program additive, penggunaan bahasa pertama dan bahasa asing secara bersamaan dinilai lebih menguntungkan bagi anak usia dini. Freeman juga menjelaskan riset dari Thomas & Collier tahun 1997 terhadap pelajar di Amerika Serikat. Hasil riset tersebut menunjukkan anak-anak yang belajar dengan program pendidikan additive memiliki tingkat akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain yang mengikuti program substractive. Tingkat akademik ini pun berjalan seimbang, baik dengan menggunakan bahasa pertama maupun bahasa asing. Hal tersebut dikarenakan peran bahasa pertama akan membantu pemahaman konsep anak, setelah konsep tersebut terbentuk maka anak tinggal mentransfer konsep tersebut ke dalam bahasa asing.

Kelebihan dan kekurangan kedua program yang telah diuraikan di atas sekiranya dapat membantu orang tua untuk mempertimbangkan mana model pendidikan yang lebih cocok untuk anaknya, karena kemampuan setiap anak tidak dapat dipukul rata. Selain itu, dalam memilih program bilingual orang tua juga harus mengingat tujuan dari pembelajaran anak usia dini, jangan sampai pendidikan tersebut membuat anak menjadi kesulitan dan terbebani, karena tujuan utama dari pendidikan anak usia dini adalah membentuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal  dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

Referensi :

C.K, Angela Wika. Peran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia Dalam Pendidikan Bilingual : http://www.ayahbunda.co.id/keluarga-psikologi/peran-bahasa-inggris-dan-bahasa-indonesia-dalam-pendidikan-bilingual (diakses pada 11 Juni 2017)

Djuharie, Otong Setiawan. (2011). Persepsi Orang Tua Siswa terhadap Pembelajaran Bilingual pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Tahun 10, No. 1, hal. 41-54